Rabu, 18 Juni 2014

Jalur Nasional Jawa Barat Rusak

Jalan nasional dan alternatif di Jawa Barat rusak parah sehingga memengaruhi perekonomian masyarakat. Sejak jalan rusak, jarak tempuh Cirebon-Bandung bisa 7 hingga 12 jam.
Padahal sebelumnya hanya butuh 3 jam.

MENGHADAPI arus mudik Lebaran, sebagian jalan na sional dan provinsi di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Barat mengalami kerusakan serius sepanjang ratusan kilometer. Perbaikan jalan selama ini yang dilakukan Dinas Bina Marga Provinsi Jabar hanya sebatas tambal sulam. Padahal anggaran untuk perbaikan jalan di provinsi itu mencapai Rp650 miliar.
Beberapa ruas jalan yang tergolong rusak parah antara lain Jalan Rajapolah-Nagreg sepanjang 25 km dan RajapolahCiamis melalui jembatan layang sepanjang 27 km.

Begitu pun jalan di Kabupaten Garut, tepatnya Leles menuju Singaparna, Tasikmalaya, yang rusak sepanjang 35 km. “Tidak hanya jalur utama, juga beberapa jalur alternatif seperti Cijapati arah Rancaekek-Kedungora, Garut. Termasuk jalur alternatif Manonjaya, Tasikmalaya, menuju Cimaragas, Ciamis,“ kata Uus Rusmana, pengemudi kendaraan yang melintas di jalur selatan, kemarin.
Kepala Dinas Bina Marga Provinsi Jabar HM Guntoro tetap optimistis beberapa jalan yang rusak akan selesai diperbaiki pada H-7 Lebaran. “Target penyelesaiannya yakni kawasan pantura dan selatan Jabar termasuk Garut dan Tasikmalaya,“ ujarnya.

Kerusakan jalan juga terjadi di jalan nasional yang menghubungkan tiga kota yakni Sukabumi-Cianjur-Bogor, tepat nya di jalan raya Sukalarang, Sukabumi. Saat ini jalan tersebut sedang dalam perbaikan, tetapi belum diketahui kapan selesai. Di Kabupaten Bandung, setidaknya terdapat 30 titik kerusakan jalan yang tersebar di 31 kecamatan dengan tingkat yang beragam. Kepala Dinas Pekerjaan dan Bina Marga Kabupaten Bandung Agus Nuria menjelaskan kerusakan jalan akibat hujan deras. “Dayeuhkolot, Baleendah, dan Rancaekek menjadi daerah dengan kerusakan jalan paling banyak akibat sering tergenang air dan banjir,“ kata Agus.
Penghasilan turun Kerusakan jalan juga terjadi di jalur Cirebon-Bandung. Jalan berlubang membuat minat penumpang naik bus menurun.

Indra, pengemudi bus jurusan Cirebon-Bandung, mengungkapkan jumlah penumpang bus turun drastis akibat jalan rusak.
Dari 45 tempat duduk di dalam bus, sering hanya terisi 6-7 orang. “Paling tinggi 10 orang.
Jumlah penumpang bertambah di sepanjang perjalanan, tapi itu hanya jarak pendek sehingga tidak berpengaruh dengan pendapatan,“ keluhnya.

Sejak jalan rusak, jarak tempuh Cirebon-Bandung bisa mencapai 7-12 jam. Padahal sebelumnya jarak tempuh hanya 3 jam. Kerusakan jalan mulai terjadi sejak banyaknya truk bermuatan batu bara melintas di jalur Cirebon-Bandung.
Keluhan sama juga dikatakan Suharno. Dia menyebutkan bus yang ia kemudikan, meski baru empat hari beroperasi, sudah harus masuk bengkel. “Biasanya bus masuk bengkel dua minggu hingga satu bulan sekali. Sekarang lebih sering. Kerusakan terutama pada kaki-kaki bus atau ban sobek,“ jelas Suharno.

Ia berharap agar jalan tol Cirebon-Bandung segera terealisasi sehingga pendapatan para awak bus bisa bertambah. Apalagi banyak penumpang mulai beralih ke kereta api.
“Sekarang pendapatan kami turun. Biasanya kami dapat Rp800 ribu-Rp1 juta per hari, sekarang untuk mendapatkan uang segitu perlu dua sampai tiga hari narik,“ ungkapnya.

Pada bagian lain, jalan lintas Sumatra (jalinsum) wilayah Tapanuli Raya meliputi Kabupaten Tobasamosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan mulai diperbaiki.

Kerusakan terparah terdapat di ruas jalan Tarutung menuju Padang Sidempuan, tepatnya di Desa Aek Latong, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Perbaikan jalan sudah dilakukan sejak awal Mei, tetapi hingga sekarang belum selesai. Kerusakan jalan juga terjadi di jalinsum Balige, Kabupaten Tobasamosir, menuju Parapat, Kabupaten Simalungun. (SB/UL/JH/N-3) - Media Indonesia, 11/06/2014, halaman 11