Kamis, 20 Maret 2014

Konsisten Kembangkan Mobil Irit Bahan Bakar

Tim Super Mileage Vehicle UI terus meregenerasi teknologi yang mereka ciptakan agar semakin berkembang.
Kompetisi tingkat nasional dan internasional menjadi tolok ukur keberhasilan mereka. "Jarang-jarang kita ketemu rektor, biasanya paling ketemunya gara gara masalah. Tapi sekarang bertemu karena prestasi merupakan sebuah kebanggaan tersendiri" Yendri M Bali Personel Super Mileage Vehicle
SEBUAH spanduk berwarna dominan hijau langsung terlihat begitu memasuki gerbang Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok. Dalam spanduk berukuran 2x1 meter itu terdapat foto sejumlah orang berseragam merah. Dua orang dari mereka berpose sembari mengangkat sebuah piala. Tulisan `Selamat, Juara 1 Shell Eco Marathon 2014 Manila' terbubuh besar di samping foto orang-orang berseragam merah itu.
Mereka ialah sebuah tim bernama Super Mileage Vehicle (SMV).

Tim Super Mileage Vehicle merupakan kumpulan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) pecinta otomotif yang bergabung untuk mencari solusi kendaraan yang hemat energi dan ramah lingkungan.

Sekilas Info : Mobil Irit sangat baik untuk menjadi sarana transportasi di Semarang

Baru-baru ini mereka berhasil memenangi sebuah piala dalam kejuaraan Shell Eco Marathon yang diadakan di Manila, Filipina. D a lam kejuaraan otomotif bertaraf Asia yang digelar awal Februari lalu itu, dua tim dari SMV UI berhasil unjuk gigi mengalahkan tim-tim dari negara Mesir, Pakistan, India, Korea Selatan, Singapura, hingga tuan rumah Filipina.

Beberapa peserta dari sejumlah universitas lain di Indonesia juga berhasil mereka lewati di kompetisi balap mobil hemat tersebut.

Dua tim itu yaitu tim Nakoela yang berhasil masuk empat besar jarak tempuh terjauh kategori prototype petrol dengan jarak 464,5 km per 1 liter bensin. Tim satunya, Sadewa Otto, bahkan berhasil menjadi yang terbaik dalam kategori urban concept petrol dengan jarak tempuh mencapai 301,7 km per 1 liter bensin.

Selasa (4/3) siang, Move berkunjung ke kampus Teknik Mesin UI untuk bertemu beberapa personel tim SMV. Di pelataran taman kampus yang cukup rindang itu, Pither Supermando, Yendri M Bali, Gendipatih, Aldry Triansyah, dan Andina Putri Zata Dini menuturkan kiprah mereka di SMV yang meng hasilkan kendaraan irit bahan bakar.

“SMV sebenarnya sudah terbentuk sejak 2010. Awalnya karena kampus kita (UI) ingin ikut kompetisi Shell Eco Marathon yang digelar di Sepang, Malaysia,“ tutur Pither Supermando membuka obrolan pada Move.

Pemuda asal Balige, Sumatra Utara, itu menjelaskan kompetisi otomotif yang mereka ikuti bukanlah sekadar ajang adu cepat, melainkan kompetisi untuk menciptakan kendaraan yang sangat hemat bahan bakar. Atas dasar itu pula tim otomotif itu dinamai dengan tim SMV. “Supermileage ini maksudnya jarak tempuh terjauh karena lomba ini kan bukan lomba balapan, kita lomba iritiritan,“ ungkap Pither.

Sebanyak 23 mahasiswa menjadi anggota SMV UI saat ini. Meski tim otomotif itu bermula dari Departemen Teknik Mesin, tidak semua anggota tim merupakan mahasiswa teknik mesin. Beberapa anggota merupakan mahasiswa dari luar kampus teknik, seperti mahasiswa kriminologi, sosiologi, dan sastra.

Keterbukaan tim tersebut pada mahasiswa di luar bidang mereka, diakui Pither, semata-mata untuk mewadahi kesenangan yang sama. “Kalau mereka suka otomotif dan mau loyal ke tim, silakan saja bergabung,“ ungkap Pither sambil mengantar Move ke bengkel kerja mereka.

Manufaktur mulai dari nol Tidak jauh dari pelataran taman, Pither dan rekan-rekannya beran jak ke sebuah ruangan kosong yang cukup besar untuk menampung 4 sampai 5 mobil kategori sedan.
“Di sini bengkel SMV berkegiatan hampir tiap hari, tapi sekarang semuanya kosong karena mobil-mobil dan peralatan masih dalam proses pengiriman balik dari Manila,“ ujar Pither memperkenalkan bengkel mereka.

Sebanyak 15 prototipe mobil telah dikembangkan SMV sejak 2010.
Mobil-mobil purwarupa itu dikembangkan dengan tiga jenis bahan bakar, yaitu bensin, etanol, dan baterai elektrik. Mesinnya sendiri diadaptasi dari mesin yang digunakan untuk sepeda motor. Di ruangan besar itulah ketika jam perkuliahan selesai, mereka lalu menggarap mobil-mobil yang hemat bahan bakar mulai dari nol.

“Mobil kita namanya Kalabia Evo4. Teknologi sebenarnya sederhana.
Dari bodinya kita menggunakan bahan karbon fiber karena lebih ringan. Dengan bobot yang ringan, beban kendaraan jadi lebih kecil dan konsumsi bahan bakar juga jadi lebih irit. Kalau dari engine, kita melakukan riset sejak 2012 perihal sistem injeksinya. Kita pakai yang namanya kaltek pengganti aki,“ jelas Pither yang merupakan manajer tim Sadewa Otto.

Kalabia Evo-4 terbilang hemat, dengan 1 liter bensin mobil tersebut bisa melaju lebih dari 300 kilometer.
Tim Nakoela yang mengembangkan mobil bernama Keris dengan dimensi 3100 mm x 900 mm x 600 mm sebenarnya pernah membuat pencapaian lebih jika dibandingkan dengan Kalabia, yaitu dengan berhasil menempuh 1.000 kilometer dengan hanya 1 liter bensin. Namun sayang, saat kompetisi di Manila, mobil yang dikomandoi Gendipatih itu gagal tampil maksimal karena masalah di lintasan balapan yang tidak teratasi.

“Sebenarnya keunggulan Keris yang mampu melaju jauh kuncinya terletak pada konsep aerodinamisnya. Sayangnya saat di Manila track-nya tidak seperti yang kita bayangkan. Ternyata konturnya jalannya jelek membuat mobil kita bermasalah beberapa kali,“ ungkap Gendipatih.
Buah regenerasi Pada 2010, saat pertama kali keikutsertaannya, tim SMV belum berhasil menjadi yang teratas dalam persaingan dengan peserta dari negara-negara lain. Meski begitu, SMV konsisten mengembangkan teknologi yang mereka buat. Rantai sumber daya manusia yang tidak terputus juga menjadi kunci prestasi yang mereka capai.

“Tiap tahun selalu ada target yang harus tercapai, untuk itulah kita butuh regenerasi,“ ujar Yendri M Bali mendukung penjelasan Pither.

Sejumlah apresiasi atas pencapaian, mulai apresiasi oleh keluarga hingga penghargaan dari rektor kampus dan sponsor yang mendukung, diakui Yendri, membuat mereka lebih bangga menjadi pemuda Indonesia.

“Jarang-jarang kita ketemu rektor, biasanya paling ketemunya gara-gara masalah. Tapi sekarang bertemu karena prestasi merupakan sebuah kebanggaan tersendiri,“ pungkas pemuda asal Makale, Sulawesi Selatan, itu. (*/M-1/ media indonesia,09/03/2014)